Saturday, July 14, 2018

Ready Player One (2018)

Sebuah film bertemakan dystopian fiction yang menggambarkan masa depan manusia dalam dunia virtual reality. AWAS SPOILER!

Poster, credit: Letterbox.com
Oke, karena saya tidak terlalu mengenal para pemeran Film Ready Player One ini kecuali Simon Pegg, mungkin saya akan langsung menceritakan film Ready Player One ini secara cukup singkat tanpa pengenalan tokoh dan sebagainya. FYI aja film ini saya tonton bukan di Bioskop, kebetulan saya nonton film ini secara kurang etis (bajakan). Namun saya meyakini diri saya sendiri bahwa film Ready Player One ini emang tontonan yang enak ditonton di Bioskop.

Ready Player One bercerita mengenai dunia masa depan (dystopia) yang masyarakatnya mulai menggandrungi Virtual Reality. Jadi di cerita itu dijalaskan ada OASIS, yaitu dunia maya/ dunia virtual reality di mana setiap orang memiliki karakter/avatar yang bisa disesuaikan dengan personalisasi masing-masing orang. Setiap orang yang mau masuk ke OASIS ini harus menggunakan semacam device khusus (kacamata VR gitu), dan juga perlengkapan seperti treadmill yang bisa bergerak ke segala arah.

Di OASIS, seseorang bisa melakukan apa saja yang bahkan tidak bisa mereka lakukan di dunia nyata. Bahkan ada semacam crypto currency sendiri untuk membeli barang-barang di OASIS dan dunia nyata. Tujuan dibuatnya OASIS ini tentu saja seperti Mark Zuckerberg menciptakan Facebook, tempat di mana orang-orang dari seluruh dunia bisa bertemu, bermain, dan saling berinteraksi. OASIS ini sendiri diciptakan oleh seorang nerd bernama Halliday.

Ada satu hal yang ditekankan di film ini, Halliday (pencipta OASIS) memiliki pesan sebelum kematiannya yang menceritakan bahwa ada sebuah Easter Egg di dalam OASIS yang memiliki nilai uang yang sangat tinggi, sehingga awal-awal menjadi perhatian banyak orang, bahkan seorang Kapitalis bernama Sorrento yang terobsesi menemukan Easter Egg ini. Namun saking terlenanya masyarakat dengan fitur-fitur di OASIS, orang-orang jadi lupa akan challenge dari founder OASIS ini. Sampai suatu hari seorang pemuda menemukan clue atas challenge pertama pencarian Easter Egg di OASIS.

Setelah penemuan kunci pertama untuk membuka Easter Egg di OASIS, baru kemudian konflik di film ini terlihat. Wade menjadi perhatian banyak orang, bahkan menjadi perhatian Sorrento dan perusahaannya yang fokus mencari Easter Egg ini.

Uniknya dari film ini menurut saya adalah temanya, yaitu dunia virtual reality, juga penggabungan antara animasi 3D dan film manusia (menggunakan CGI). Jadi ketika sedang berada di OASIS, avatar digambarkan dengan animasi 3D, dan ketika di dunia nyata, maka filmnya bener-bener manusia. Apakah keseluruhan film dominan syuting animasi 3D? Mungkin, tapi adegan di dunia nyata ga kalah penting juga.

Pencarian Easter Egg oleh Wade dan kawan-kawannya (yang ketemu di OASIS) ini dibuat semakin menarik karena ternyata Sorrento, sang kepala perusahaan IOI (Innovative Online Indusry) yang berobsesi mencari Easter Egg ini sedari awal. Saking terobsesinya, dia menciptakan tim yang mempelajari Pop Culture dan tim yang masuk ke dunia virtual untuk mengikuti challange-challange untuk mendapatkan kunci dan membuka Easter Egg.

Untuk sebuah film di tahun 2018 ini, film Ready Player One memberikan nuansa film yang mengena untuk para penontonnya, generasi Millenial yang dekat dengan budaya pop dan digital, membuat penonton (termasuk saya), bakal mengena sekali. Menurut saya film ini cocok untuk ditonton berkali-kali. Adanya challange juga membuat saya terkadang menghentikan dulu filmnya dan memikirkan jawaban atau menebak-nebak langkah yang akan dilakukan si tokoh utama.

Film ini juga memberikan pandangan betapa pentingnya privasi kita di dunia Virtual. Bahkan kita tidak bisa memastikan dengan jelas apakah teman di dunia virtual kita itu seperti apa yang kita pikirkan. Karena kalau lengah terhadap privasi kita di dunia virtual, akan membahayakan kehidupan kita di dunia nyata.

Best Moment


Adegan terbaik menurut saya bukanlah drama rahasia Easter Egg Halliday di OASIS, atau juga bukan aksi tembak menembak, kejar-kejaran kendaraan mobil di OASIS. Namun ketika challenge terakhir. Yaitu ketika ada mesin game di mana sang player harus 'menyelesaikan' game tersebut untuk mendapatkan kunci. Tapi game apa? Dan bagaimana menyelesaikannya? Ternyata kunci terakhir ada hubungannya pada game yang memiliki Easter Egg pertama di dunia, yaitu game Arcade ciptaan Warren Robinett. Ya, kunci dari challange ini adalah menemukan Easter Egg di dalam game. 

Mengapa best moment? Karena menurut saya kunci dari semua game adalah bukan untuk menyelesaikan game itu, tapi untuk menikmati game tersebut. Receh ya? Maafkan.

Filmography

Genre:  Action, Adventure, Sci-Fi.
Release: 2018
Directed by Steven Spielberg
Writing Credits : Zak Penn (screenplay by) and Ernest Cline (screenplay by), Ernest Cline (based on the novel by).
Stars: Tye Sheridan, Olivia Cooke, Ben Mendelsohn, See full cast & crew 

Saturday, April 14, 2018

Huawei P20 Pro, Smartphone Terbaik versi DxOMark Saat Tulisan ini Dibuat

Saat tulisan ini dibuat, Huawei P20 Pro adalah smartphone yang kameranya mengalahkan Samsung Galaxy S9+, iPhone X, dan Google Pixel 2.

Foto Fisik Huawei P20 Pro. Sumber
Dibekali 3 kamera belakang, yang kamera utamanya memiliki sensor 40MP, kemudian kamera untuk memotret monochrome (hitam putih) sebesar 20MP, dan kamera tele 8MP, maka bisa dibilang Huawei P20 Pro adalah smartphone dengan kualitas kamera terbaik, bukan kata saya, tapi kata DxOMark.

DxOMark sendiri adalah badan/sumber independen yang kerjaannya menilai dan mengukur kualitas kamera dan lensa. Berdasarkan perhitungan DxOMark, Huawei P20 Pro menjadi smartphone dengan rating atau nilai tertinggi saat tulisan ini dibuat lho. Yang kemudian diikuti oleh versi bukan pro dari Huawei P20. Baru kemudian diikuti Samsung Galaxy S9+, dan kemudian Google Pixel 2, baru iPhone X.

Tiga kamera belakang yang dimiliki oleh Huawei P20 Pro ini bisa dibilang yang pertama, di mana rata-rata smartphone sekarang memiliki dua kamera belakang, yang fungsinya untuk memotret biasa dan zoom (telephoto). Apalagi dibekali sensor sebesar 40MP, padahal Samsung S9+ saja hanya memiliki sensor 12MP. Bahkan kamera depan Huawei P20 Pro ini sensornya 24MP!

Perbandingan Kualitas Low Light. Sumber 
Overral dari DxOMark. Sumber
Kembali lagi nama Leica muncul bersamaan munculnya Smartphone ini. Memberikan semacam jaminan kualitas kamera dan lensa Huawei P20 pro ini. Tapi tetap saja saya hanya menganggap itu Gimmick semata.

Untuk urusan merekam video, Huawei P20 Pro tentu saja bisa merekam 4K! Kameranya juga bisa merekam slow motion sampai 960fps di mode 720p, padahal iPhone X yang katanya superior itu hanya bisa merekam slow motion sampe 240fps. Dan pastinya kameranya memiliki stabilitator, jadi ga perlu diobrolin lebih teknis lah.

Jadi, apakah kamu masih berencana untuk membeli kamera mirrorless?

Oiya kamu ga bakal mendapatkan info teknis seputar real live testing di tulisan ini karena tentu saja saya tidak memiliki smartphone ini. Juga smartphone Samsung S9+ dan iPhone X untuk perbandingan hasil foto dan hasil video. Kamu bisa mendapatkan informasi itu di review DxOMark.

Pendapat Akhir

Teknologi yang dimiliki Huawei P20 Pro memang yang paling terbaru ketika tulisan ini dibuat. Kualitas kamera mirrorless, DSLR, dan poket kamera udah ada di smartphone ini. Tinggal yang terpenting adalah man behind the gear.

Urusan memotret untuk kebutuhan professional tentu urusan penguasaan teknik fotografi dan pengalaman, tidak ada yang bisa mengelak itu, bahkan teknologi maju yang dimiliki Huawei P20 Pro tidak bisa menutupi kekurangpiawainya kamu menguasai teknik fotografi.

Huawei P20 Pro hanyalah alat, sama seperti smartphone yang memiliki kualitas kamera yang bagus, sama juga seperti kamera digital yang memiliki fitur dan kualitas yang bagus. Karena ketika sudah masuk ke dunia professional dan tujuan memotretmu untuk menghasilkan sebuah seni, tak ada yang memperhatikan gear yang kamu gunakan.



Friday, April 6, 2018

Ebook Photobooks Gratis Dari Reflex Amsterdam

Photobooks (Buku Foto) dalam bentuk buku elektronik (e-book, format .pdf) gratis dari Reflex Amsterdam. Beberapa di antaranya ada karya Daido Moriyama. 

Pertama kali tau adanya buku foto gratis Daido Moriyama ini adalah ketika saya sedang berada di grup Whatsapp kelompok hunting foto 24 Hour Project pada tahun lalu (1 April 2017). 

Ada salah satu teman yang memberitahukan link e-book foto buku gratis ini, saya sangat tertarik karena ada buku foto Daido Moriyama di antara buku foto lainnya di link tersebut.

Salah satu exhibition Reflex Amsterdam. Sumber

Untuk mengunjungi link buku fotonya, kamu bisa mengunjungi alamat ini reflexamsterdam.com/books/. Pada halaman itu akan ada thumbnail buku-buku foto/essays seniman yang diterbitkan oleh Reflex Amsterdam dan bisa kamu unduh secara gratis.

Sebagai bahan informasi saja, karya-karya visual (fotografi, seni patung, lukisan) yang ada di buku-buku pada halaman tersebut hanya bisa dikonsumsi oleh orang dewasa (mature) saja, maksud saya dewasa dalam pikiran, karena ada alat vital laki-laki dan perempuan yang tidak disensor di buku tersebut.

Reflex Amsterdam

Since 2005 the gallery opened a new space to represent and exhibit solely international established artists as well as emerging talents, to advise and and build local and international private and corporate art collections, focusing on contemporary photography, painting and sculpture. - About Reflex Amsterdam

Reflex Amsterdam adalah sebuah gedung gallery karya seni yang berada di Amsterdam. Didirikan pada tahun 1986 sebagai tempat exhibition karya seni lokal pada saat itu. Kemudian baru pada tahun 2005 gallery tersebut menampilkan karya-karya dari luar.

Gallery Reflex ini menampilkan karya seni masa kini (kontemporer) yang fokus pada fotografi, lukisan, dan seni patung. 

Gallery ini juga mewakili seniman-seniman seperti Andrew Moore, Nobuyoshi Araki, Roger Ballen, Marcus Harvey, Daido Moriyama, Harland Miller, David LaChapelle, Yasumasa Morimura, Bill Owens, Larry Sultan, Chris Verene, Robin Lowe, Miles Aldridge, Hisaji Hara, Chen Nong, Phyllis Galembo, Robert Yarber, Erwin Olaf, Barry Reigate.

Isi Halaman Buku Reflex Amsterdam. sumber

Daido Moriyama: TOKYO. sumber

Isi buku Daido Moriyama: TOKYO. sumber

Tertarik untuk mengunjungi gallery ini? Ini nih alamatnya:

Weteringschans 79 A
1017 RX Amsterdam
The Netherlands
maps

Opening hours:
Tuesday – Saturday
11 am – 6 pm

Informasi Lebih Lanjut

Friday, January 26, 2018

Ngeblog Pake Jekyll dan Netlify

Sudah cukup banyak platform untuk ngeblog yang saya cobain, mulai dari wordpress.com (subdomain wordpress, free), kemudian pindah ke blogspot, lalu kemudian pindah ke tumblr, kemudian sempat nyaman ngeblog di medium, lalu sempet pindah ke postach, terus hosting sendiri wordpress, lalu kemudian nyobain web statis seperti Jekyll dan Grav. Kemudian terakhir saya kembali menggunakan Blogspot cukup lama.


Setelah menggunakan blogspot, entah mengapa saya kangen banget sama Jekyll, web statis yang ternyata banyak banget yang pake, walaupun rata-rata penggunanya adalah programmer. Perbedaan dengan Grav adalah jekyll menurut saya lebih mudah dikostumisasi, dan juga minim error, maksudnya, ketika saya pake Grav CMS terus otak-atik tema dan plugin, entah kenapa tau-tau error, dan saya engga tau sama sekali letak kesalahannya.

Community support pada Grav CMS yang minim ini (terkahir pake grav di tahun 2014) menjadi alasan juga kenapa saya mulai meninggalkan Grav CMS. Tapi saat ini saya rasa community supportnya sudah lebih baik, hanya saja saya cukup sulit mengoperasikan panel adminnya. Berbeda dengan jekyll yang rasanya mudah sekali dan tidak perlu ribet mengoperasikan panel admin, cukup edit di editor kemudian tinggal commit dan push. Atau kalau tidak menggunakan pc sendiri, tinggal buka github.com kemudian tambah file post.

Sebagai awalan, saya langsung fork/kloning template yang bagus ke repository github saya. Namun seperti kebiasaan saya, saya engga memakai secara gitu aja template yang saya kloning, saya melakukan cukup banyak perubahan pada layout, font, dan settingan. Semuanya saya setup menggunakan sublime text 2, bahkan untuk menulis post juga menggunakan Sublime Text 2.

Sedikit Setup

Buat pengguna Windows seperti saya, kamu bisa menginstall jekyll menggunakan command prompt dan chocolatey. Tujuan menginstall jekyll di windows adalah supaya development bisa dilakukan offline. Cara menginstallnya mudah banget, apalagi buat pengguna windows 10 yang sudah Anniversary Update, karena bisa menggunakan command seperti di linux atau mac.

Buat pengguna windows 10, bisa menginstall jekyll menggunakan cara ini: Jekyll on Windows.

Deploy ke netlify

Saya mendeploy repository yang berisi website jekyll saya ini ke Netlify, karena mudah dikostumisasi untuk penggunaan custom domain. Selain itu saya bisa dengan mudah mengganti repository tanpa harus setup CNAME di setiap reponya, jadi tanpa DNS propagansi, saya bisa mengganti website dengan repository Github yang berbeda.

Bahkan dengan satu repository, kita bisa membuat sub domain yang berbeda untuk setiap branch-nya menggunakan Netlify.

Selain github pages, Netlify juga bisa untuk web statis lainnya seperti Hugo. Namun karena masih cinta sama jekyll, jadi saya hanya fokus ke Jekyll dulu saja.

Credit

Wednesday, November 15, 2017

Calmly Writer, Teman Baik Blogger

Saya pertama kali tau Calmly Writer itu ketika sedang mencari aplikasi Chromebook/Chrome OS untuk menulis, atau alternatif Writemonkey (aplikasi menulis yang saya pasang di Windows OS), juga alternatif dari IA Writer yang ada di Android dan iOS.

Calmly Writer
Tentunya saya mencari aplikasi yang ringan, ada distraction free-nya, support markdown beserta preview (entah mengapa saya tergantung sekali sama markdown ini semenjak menggunakan iA Writer di Smartphone), spelling check, syukur kalau ada focus mode-nya, bisa mode offline, dan mudah untuk melakukan export textnya.

Kebetulan ada dua aplikasi menulis yang menjadi perhatian saya di Chrome Web Store, yaitu Calmly Writer dan Writer. Calmly Writer sebenarnya aplikasinya free, berbeda dengan writer yang harus beli dulu, baru bisa dipakai, engga ada trialnya. Namun ada fitur pada Calmly Writer yang baru bisa digunakan setelah kita donasi, yaitu markdown support dan fitur cloud backup, juga ada brand banner yang baru akan hilang apabila kita melakukan donasi. Harganya sendiri sekitar Rp.50.000, Sedangkan Writer seharga Rp.35.000.

Karena saya termasuk orang yang sangat menghargai produk atau karya orang lain, maka saya donasi aja untuk menghilangkan brand Calmy Writer. Sedangkan Writer sendiri saya sengaja mencoba beli, namun karena tidak puas, saya melakukan refund untuk aplikasi Writer ini.

Bisa dibilang aplikasi Calmly writer ini sangat minimalis, Ketika kita membuka tulisan, maka markdown tag otomatis dibuat previewnya. Jadi langsung WYSIWYG (what you see is what you get). Sebagai keperluan saya menulis artikel blog, calmly writer ini fiturnya sudah cukup lengkap. Kalau saya jabarkan fiturnya itu seperti di bawah ini:

  • Distraction Free
  • Spelling Checker
  • Cloud Backup
  • Offline mode
  • Focus Mode
  • Dark Mode (ini penting, bikin nyaman kalau ngetik lama-lama)
  • Markdown support
  • Formatting
  • Word Counter
  • HTML Export
  • Otomatisasi en/em dash, 

Lebih lengkapnya bisa anda baca dokumentasi Calmly Writer ini di situsnya langsung. FYI kamu juga bisa membuka versi browsernya langsung di url calmlywriter.com/online. Namun apabila kamu lebih menyukai aplikasi standalone, kamu bisa mengunduhnya di Chrome Web Store.

Sedikit Pengaturan untuk Blogger

Karena saya menggunakan blogger untuk ngeblog, maka ada sedikit pengaturan yang saya lakukan di aplikasi calmly writer. Saya menyimpan dokumennya dengan ekstensi .cml, karena dengan ekstensi cml ini saya bisa export html dan ketika dipasang di blogger, format tulisannya tidak ada yang perlu saya ubah, juga antar paragraf sudah ada line breaknya. Berbeda kalau saya menggunakan format .md (markdown), ketika diexport, tidak ada line break antar paragraf. Sehingga saya harus melakukan editing lagi ketika tulisan sudah dipindahkan di blogger.

Kekurangan dari saya menyimpan dokumen dengan ekstensi .cml adalah, tulisan saya hanya bisa dibuka di calmly writer. Berbeda dengan ekstensi .md, dengan ekstensi itu, saya bisa membukanya di device mana saja, PC, Chrome OS, Android, dan iOS.

Nyobain Writemonkey 3 Beta

Buat para pengguna Writemonkey 2, kehadiran versi 3 ini mungkin seperti kabar gembira. Karena saya sendiri sebagai pengguna Writemonkey 2 cukup gembira mengetahui sang developer merilis versi 3nya, walaupun masih Beta.

Saya kebetulan tau ada writemonkey 3 ini pas lagi iseng-iseng nyari cuitan writemonkey di Twitter, saya pikir mungkin ada plugin terbaru, dan sebelunya tidak terpikirkan oleh saya kalau sang developer bakal merilis versi terbaru, karena writemonkey 2 aja rilisnya udah lama banget.

Writemonkey 3.0.4 Beta
Writemonkey 3 ini tentu saja freemium, gratis untuk diunduh, namun kamu perlu donation key untuk bisa menggunakan plugin yang ada pada versi 3 ini. Tanpa pikir panjang, saya langsung donasi Rp.6.000,- biar bisa nyobain semua plugin. Kamu bisa download gratis untuk PC, linux dan Mac di sini

Saat pertama kali membuka aplikasi ini, saya bingung banget karena engga ada menu pilihan saat klik kanan. Secara default, tampilan yang muncul adalah tampilan yang bukan distraction free (entah namanya apa). Pada tampilan ini akan terlihat tiga bagian, sidebar kanan, kiri, dan tempat untuk menulis seperti pada gambar di bawah:

tampilan default writemonkey 3.
Seperti aplikasi Sublime Text, pada writemonkey versi 3 ini ada Command Pallete-nya, kamu bisa memunculkannya dengan shortkey CTRL + SHIFT + P. Semua pengaturan bisa kamu lakukan di command pallete ini. Mulai dari toggle view, memilih tema, mengaktifkan fungsi plugin dan fungsi menulis lainnya, buka dan simpan file, sampai export.

Beberapa hal yang menarik adalah, secara default, apabila kamu melakukan donasi, maka fungsi menulis sudah sangat lengkap, melihat headings dan preview markdown. Kemudian kamu bisa berpindah ke tampilan distraction free, dan kemudian fokus pada paragraf yang sedang ditulis sementara paragraf yang lain tampilannya meredup. Berbeda dengan writemonkey versi 2 yang pluginnya terpisah, atau musti diunduh satu persatu.

Kemudian ada fitur repository, sehingga kita bisa menyimpan paragraf-paragraf ke dalam repository untuk kemudian kita susun ulang seluruh repository ke dalam satu artikel. Hal ini memudahkan editing keseluruhan artikel yang sedang saya tulis.

Satu hal yang saya rasa masih kurang adalah kemampuan untuk export to html atau copy as html, dan juga copy as RTF seperti yang ada pada writemonkey 2. Karena tulisan yang saya buat wm itu tujuannya kebanyakan saya copy ke blogger. Saya harap sih kedepannya fitur ini dimunculkan kembali. Sementara saya masih nyaman pakai Calmly Writer buat menulis artikel blog yang akan saya pasang di blogger.



Tuesday, November 14, 2017

Mengais Rezeki di Pantai Anyer

Pada tanggal 11-12 November kemarin saya dan keluarga dari Istri jalan-jalan ke pantai Anyer, Banten. Saya kebetulan baru tau pantai Anyer ini berada di provinsi Banten, sebelumnya saya pikir pantai di selatan pulau Jawa.

Tujuan kepergian kami ke pantai Anyer ini adalah pelesiran sekalian arisan keluarga dari istri. Arisan kali ini bisa dibilang arisan yang tergolong mewah, karena kami menyewa rumah di pinggir pantai.

Pantai Anyer
Karena kebetulan tujuan ke pantai Anyer ini buat pelesiran, jadi saya tidak terlalu banyak memotret, karena mesti gantian mengurus Naura dengan istri saya. Saya hanya menyempatkan memotret saat sedang tidak menggendong Naura. Pelesiran ini juga termasuk pertama kalinya saya, istri, dan Naura jalan-jalan ke pantai.

Banyak hal menarik selain pantai dan keindahan alamnya, yaitu para pengais rezeki yang bermunculan semenjak kami datang. Dimulai dari tukang pijat di malam hari yang menawarkan jasanya, hingga penjual petai dan jengkol di pantai. Iya, di pantai, coba bayangkan, sedang berenang terus menepi, tau-tau ditawari petai.

Merusak romantisme saja.

Kalau semisalnya sewa perahu, pelampung, perlengkapan snorkling, mungkin lumrah ditemui di pinggir pantai, tapi ini penjual petai. Mungkin buat yang sering bepergian ke pantai Anyer bisa dibilang biasa, namun buat pengunjung pertama pantai ini, saya merasa romantisme liburan jadi sedikit terbuyarkan saja.

Seperti yang saya bilang di awal, karena saya tujuannya mau pelesiran sama keluarga, saya tidak banyak memotret di pantai ini, jadi hasil memotret dari Canon S95 saya ini tergolong sedikit.

Sewa perahu boat, lumrah terlihat di pantai-pantai Indonesia

Tato semi permanen, kebetulan salah satu keponakan istri ada yang minta ditato ginian.

Seorang pedagang membuka 'lapak' di depan rumah sewaan kami.

Penjual Petai dan Pisang 'yang ukurannya besar' ini menjadi tontonan kami selama di pantai Anyer


Sunday, October 1, 2017

Memesan Uber Menggunakan Komputer

Iya, sebenarnya kamu bisa memesan Uber tanpa menggunakan smartphone. Informasi ini kebetulan saya dapatkan ketika saya membaca di Medium, pengalaman orang-orang yang mengisi hari-harinya tanpa menggunakan smartphone.

m.uber.com
Oiya, cara memesan uber menggunakan komputer cukup gampang, ketik m.uber.com di browser kamu. Syaratnya adalah, tentu saja memiliki komputer, browser, Internet, dan bisa melacak lokasi. Kalaupun komputer kamu tidak bisa melacak lokasi, tinggal cari saja alamat/lokasi dekat denganmu.

Review

Karena ini sebenarnya adalah aplikasi web untuk smartphone, maka ketika dibuka di browser komputer, menjadi lebar banget, dan UI mobilenya membuat agak sedikit awkward apabila dibuka di layar yang besar/lebar. 

Ketika pertama kali membuka halamannya, maka akan diminta untuk login menggunakan nomor telepon yang terdaftar. Apabila kamu belum pernah mendaftar/sudah mendaftar tapi belum membuat password akun, maka akan masuk kode login melalui sms ke nomor teleponmu. 

Selanjutnya akan muncul tampilan utama untuk pemesanan dan akan ada popup yang meminta akses lokasimu, pilih iya supaya pemesanan gampang dilakukan. 

Sayangnya saya belum pernah mencoba memesan melalui halaman m.uber.com ini, jadi saya tidak bisa memberikan ulasan pemesanannya. Tapi berdasarkan artikel yang saya baca, kamu bisa memesan melalui aplikasi web uber ini. 


Thursday, September 28, 2017

Whatsapp Desktop di Windows 7

Kalau melihat keterangan di halaman download Whatsapp, maka bisa dilihat di sana kalau aplikasi whatsapp desktop hanya bisa diinstall minimal pada Windows 8. Karena informasi inilah saya bingung ketika mencari alternatif aplikasi Whatsapp untuk diinstall di windows 7. Bahkan karena frustasi (ceilah), saya sampai bela-belain nginstall Windows 10, hanya supaya bisa menginstall aplikasi desktop (native) Whatsapp.

Whatsapp Download Page
Padahal sebenarnya aplikasi Whatsapp desktop yang ada di halaman download Whatsapp itu bisa diinstall di Windows 7. Bahkan proses instalasinya juga sama aja dengan ketika install di Windows 10. Kalau engga percaya, coba aja main ke halaman official Whatsapp, dan masuk ke halaman download. Kemudian download aplikasi whatsapp yang bertuliskan Windows 8 and Higher, kemudian download salah satu (32bit atau 64bit, pilihlah sesuai selera kebutuhan). Setelah itu coba aja install dan tunggu hingga instalasi selesai.

Pandangan Pertama

Aplikasi yang diinstall di windows 7 ini berjalan mulus seperti ketika berjalan di Windows 10. Semua fitur berjalan dengan lancar. Saya mencoba mengirim tulisan, gambar, dokumen kepada teman saya, dan semuanya tidak ada masalah. Kemudian saya mencoba mengelola grup, juga tidak ada masalah. Semuanya berjalan lancar.

Permasalahan utama yang ada pada aplikasi ini, yaitu fitur notifikasi yang tidak muncul, lantaran notifikasinya harus terintegrasi ke OS (yang support adalah Windows 8 dan Windows 10). Kalau diperhatikan notifikasi aplikasi whatsapp yang diinstall di windows 10, tampilannya seperti native, atau seperti terintegrasi dengan sistem OSnya, beda dengan notifikasi aplikasi desktop telegram. Pemberitahuan atau notifikasi telegram akan muncul di pojok kanan bawah layar, namun kalau diperhatikan tidak terintegrasi dengan notifikasi pada OS Windows 8 dan Windows 10. 

Tanda atau indikasi supaya kita tau ada chat masuk ke whatsapp kita adalah dari suara dan akan muncul tanda adanya pesan masuk (notification badge) ke whatsapp kita pada icon whatsapp di taskbar. Notification badge ini tidak akan terlihat apabila kamu menggunakan tampilan use small icons di Windows 7. 

Itulah salah satu alasan saya masih menyukai telegram. Namun karena masih banyak teman saya yang menggunakan Whatsapp inilah saya bela-bela ngubek-ngubek search google untuk menemukan aplikasi desktop/native Whatsapp. 

Kalau kamu engga bisa menerima kenyataan bahwa notifikasi chat whatsapp yang engga muncul di pojok kanan bawah pada Windows 7 ini, kamu masih bisa menggunakan aplikasi web whatsapp yang bisa diakses di halaman web.whatsapp.com.

Semoga bermanfaat.


Sunday, August 27, 2017

24 Hour Project Photo: Street Tattoo

Sebenarnya ada banyak foto 24 Hour Project Saya yang saya fotoin pada tanggal 1 April 2017 yang lalu. Memang engga sampai 24 foto yang saya upload di media Sosial, lebih tepatnya saya hanya mengunggah sebanyak 12 foto.

Street Tattoo © Jaka
Dari ke dua belas foto yang saya unggah, ada satu foto yang ternyata direupload atau direpost sama akun instagram @24hourproject Official. Foto ini juga menjadi salah satu favorit saya. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini saya akan membahas foto ini.

Judul foto ini sendiri saya beri nama "Street Tattoo", karena memang proses menatonya dilakukan di pinggir-pinggir jalan di sekitar Blok M, Jakarta. Jasa tato pinggir jalan seperti itu cukup lumrah terjadi di Blok M. Kalau saya perhatikan, memang yang memakai jasa tato merupakan orang-orang kelas menengah ke bawah.

Ceritanya pada saat hunting 24 Hour Project, kebetulan rute siang itu menuju Blok M. Sesampai di Blok M, ternyata rombongan kami terpisah dengan beberapa orang. Akhirnya sambil istirahat siang, kami menunggu di taman Martha Tiahahu.

Sambil menunggu, sayapun menuju tempat tato pinggiran karena cukup tertarik dengan suara mesin (seperti bor di dokter gigi) yang terdengar sampai ke taman. Kebetulan juga temen-temen yang lain engga ada yang inisiatif ke tempat tersebut, sehingga foto saya engga bakal samaan, karena yang motoin subyek foto tersebut siang itu cuman saya seorang.

Seperti fotografer jalanan awam lainnya, meminta izin memotret itu dibutuhkan keberanian yang sangat tinggi. Saya sendiri takut bukan main ketika mau motret, apalagi saya hanya membawa kamera poket Canon S95 saya.

Dengan malu-malu, saya mencoba memberanikan diri menyapa orang di situ, kemudian menjelaskan maksud kedatangan saya. Saya bilang aja kalau saya itu fotografer, padahal kalau saya pakai kamera DSLR, mungkin abang-abang di situ lebih percaya, soalnya pas saya nenteng kamera poket, si abang mempersilakan sambil terlihar bingung.

Sayapun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, beberapa frame saya ambil fotonya. Namun karena saya ini masih sangat awam, sehingga saya tidak berniat memotret lama-lama di tempat jasa bikin tato tadi.

Mengapa saya memotret foto tersebut? Karena menarik?

Tentu saja.

Kalau menurut saya, adanya fenomena jasa bikin tato pinggir jalan sebagai pertanda, bahwa tato sudah menjadi kebutuhan orang. Seperti cukuran, massage, pijat refleksi, totok wajah, menikur pedikur, dan creambath.

***

Jujur Saja, saya sebenarnya masih bisa mengeksplorasi subyek foto saya saat memotret foto ini. Namun karena kurangnya engagement atau kurangnya kedekatan antara saya dengan subyek secara emosional, dan juga karena sedang 24hourproject, maka saya tidak bisa terdiam lama dengan satu subyek foto.

Meta Info

  • Gear: Canon S95
  • ISO: 400
  • F-Stop: F/2.0
  • Speed: 1/1000

Saturday, August 26, 2017

Nikahlah Ketika Sudah Pengen Nikah

Sebagai seorang pria dan waktu masih muda dahulu kala, saya pernah ikut-ikutan konsep "Aku ga apa-apa ga sama kamu, asal kamu bahagia". Konsep kebahagiaan yang fana dan absurd, karena pada dasarnya saya emang engga bahagia ketika mantan pacar jalan sama orang lain. Saya bilang kayak gitu biar seolah-olah saya itu dianggap kuat, engga pacaran sama dia (sang mantan).

Surat Nikah
Hal seperti di atas ternyata jadi kebiasaan orang-orang di era saya, kemungkinan sudah dari dulu seperi itu, entah sekarang seperti apa (soalnya saya udah nikah). Ternyata kebahagiaan emang mudah diucapkan, padahal bahagia itu dirasakan.

Munafik? Iyalah, kita lebih senang bikin orang berpikir kalau kita sedang bahagia. Oh bukan, bukan saya mau bilang hidup saya engga bahagia. Saya bersyukur dengan hidup saya saat ini, saya bahagia dengan keadaan saya saat ini, bahkan dengan adanya Istri dan Naura adalah alasan kenapa kedepannya saya ga mungkin engga bersyukur.

Saya hanya pernah melakukan kebodohan akhir-akhir ini, berusaha supaya orang lain bahagia seperti apa yang saya alami. Padahal, apa yang saya anggap bahagia untuk saya, belum tentu akan membahagiakan orang lain ketika melakukan hal yang sama dengan saya. Contohnya adalah, pernikahan.

Ok, mungkin untuk seumuran saya, bahasannya bukan pacaran lagi, tapi ke arah sebuah pernikahan.

Konsep bahagia itu sebenarnya cukup sederhana, seperti saya makan nasi rendang karena memang lagi pengen dan suka, dan saya bahagia. Bukanlah seperti ini, saya harus makan nasi rendang, karena si Agus juga makan nasi rendang. Urusan bahagia itu bukan karena si Agus udah nikah dan punya anak, maka saya harus nikah dan punya anak supaya saya bahagia.

Kebiasaan jaman dulu yang masih berlangsung sampai saat ini adalah, orang terdekat menganggap kamu engga bakalan bahagia, kalau kamu engga nikah dan punya anak mencapai apa yang telah mereka capai. Jadi ketika kamu berpikir untuk menikah, ada pertanyaan yang harus kamu jawab. Apakah kamu menikah karena pengen? Atau karena orang tua kamu yang mau kamu segera menikah?

Kamu engga bakal kekurangan kebahagiaan kalau kamu ga makan nasi rendang seperti si Agus. Atau kamu ga bakal jadi pria yang tidak berbahagia kalau kamu engga bisa pacaran sama Pevita Pierce. Banyak hal lain yang bisa membahagiakanmu. Misalnya ngopi kopi sachetan sambil baca novel N.H. Dini di pagi hari tanpa ada yang mengganggumu.

Jadi kalau ada yang nanya pas lagi kumpul keluarga, kapan kamu akan menikah, dan kamu memang belum ada rencana untuk menikah, maka jawab saja:

Nikahnya nanti, kalau sudah pengen nikah.

***

Disclaimer, Agus di sini hanyalah tokoh fiktif semata, tidak ada niatan khusus kenapa menggunakan nama tersebut.